Selasa, 14 Oktober 2014

Rangkuman Jurnal



PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KESTABILAN ENZIM XILANASE DARI Trichoderma viride

 
Enzim merupakan biopolimer yang berperan sebagai katalis hayati dalam reaksi-reaksi biokimia yang terjadi dalam sel mahkluk hidup. Xilanase adalah kelompok enzim yang memiliki kemampuan menghidrolisis hemiselulosa (xilan) menjadi xilosa. Enzim xilanase dihasilkan oleh bakteri dan kapang melalui proses fermentasi. Salah satu kapang yang dapat menghasilkan xilanase adalah Trichoderma viride. Dewasa ini enzim xilanase dimanfaatkan untuk pembuatan gula xilosa, proses bleaching pada pembuatan kertas, campuran makanan ternak, dan juga digunakan untuk industri makanan dan minuman. Seperti pada umumnya, enzim kestabilan enzim xilanase dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya suhu, pH, dan zat inhibitor. Selain itu adanya enzim lain seperti enzim protease yang berfungsi untuk menguraikan protein akan mempengaruhi kerja dari enzim xilanase. Kestabilan suatu enzim dapat dilihat dari aktivitas enzim sisa, dimana enzim dinyatakan stabil bila aktivitas enzim sisanya lebih dari 50% dari aktivitas enzim awal. Dari uraian di atas maka diperlukan suatu penelitian tentang pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap enzim xilanase dari Trichoderma viride sehingga diperoleh informasi tentang kestabilan dari enzim xilanase dari berbagai variasi suhu dan lama penyimpanan.
Enzim xilanase sering di artikan sebagai enzim yang mampu memutuskan ikatan pada rantai utama xilan yang akan membentuk molekul oligosakarida pendek. Enzim inilah yang memegang peranan kunci dalam mendegradasi polimer xilan yang banyak ditemukan pada dinding sel tanaman berkayu. Mekanisme kerja enzim xilanase mampu mendegradasi polimer xilan dengan cara memutus ikatan antargugus pada bagian tengah secara acak yang akan menghasilkan xilooligosakarida. Berbeda dengan xilanase pada umumnya, Aeromonas xilanase akan memutus rantai xilan dari bagian ujung dan akan menghasilkan satu jenis oligosakarida. Induksi ekspresi gen xilanase dapat dilakukan dengan penambahan xilobiose, seperti pada Cryptococcus albidus.
Kestabilan enzim xilanase dari trichoderma viride dipengaruhi oleh: 1) suhu; peningkatan suhu yang ekstrim dapat menyebabkan atom-atom penyusun enzim bergetar sehingga ikatan hidrogen terputus dan enzim terdenaturasi. Denaturasi adalah rusaknya bentuk tiga dimensi enzim dan menyebabkan enzim terlepas dari substratnya. Hal ini, mengakibatkan aktivitas enzim menurun, denaturasi bersifat irreversible (tidak dapat kembali). Setiap enzim mempunyai suhu optimum, enzim xilanase memiliki suhu optimum 60˚C, lama penyimpanan juga mempengaruhi bersamaan dengan suhu yang di terima oleh enzim dalam waktu selama penyimpanan. 2) PH(derajat keasaman); Enzim memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan derajat keasaman dan kebasaan (pH) lingkungan. Enzim bisa tidak aktif jika berada pada basa kuat atau asam kuat. 3) Inhibitor (penghambat); Kinerja enzim bisa terhambat oleh adanya zat lain. Zat yang menghalangi kerja enzim dinamakan inhibitor. Inhibitor dapat menghalangi kerja enzim secara tetap atau hanya untuk sementara. Inhibitor enzim dibedakan menjadi 2 jenis, antara lain inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.

Daftar pustaka
  1. Muawanah, A., 2006, Produksi Enzim Xilanase Termostabil Thermomyces lanuginosusIFO 150 pada Bagasse Tebu, Tesis IPB, Bogor.
  2. Richana, N., 2002, Produksi dan Prospek Enzim Xilanase dalam PengembanganBioindustri di Indonesia, Buletin AgroBio, No. 1, Vol. 5, Hal. 29-36
  3. Budiman, A., dan Setiawan S., 2010, Pengaruh Konsentrasi Substrat, Lama Inkubasidan pH dalam Proses Isolasi Enzim Xilanase dengan Menggunakan Media Jerami Padi,Universitas Diponegoro, Semarang.
  4. Winarno, F.G. 1986. Enzim Pangan. Jakarta: Gramedia.
  5. Simkovic. M., A. Kurucova., M. Hunova., L. Varecka,2008, Induction of Secretion ofExtracellular Proteases from Trichoderma viride, Acta Chimica Slovaca, Vol.1: 250 –264.
  6. Dondin Sajuthi, Irma Suparto, Yanti, dan Willy Praira, 2010, Purifikasi dan PencirianEnzim Protease Fibrinolitik dari Ekstrak Jamur Merang. Makara Sains, Vol. 14: 145-150.
  7. Poliana J, MacCabe AP. 2007. Industrial Enzymes; Structure, Function, and Applications. Dordrecht: Springer. Halaman: 77. ISBN 978-1-4020-5376-4
  8. Coughlan MP, Hazlewood GP. 1993, Beta-1,4-D-Xylan-degrading enzyme systems: biochemistry, molecular biology and applications. Biotechnol Appl Biochem 17:259–289.
  9. Kubata BK, Takamizawa K, Kawai K, Suzuki T, Horitsu H. 1995. Xylanase IV, an exoxylanase of Aeromonas caviae ME-1 which produces xylotetraose as the only low-molecular-eight oligosaccharide from xylan. Appl Environ Microbiol 61:1666–68.
  10. Biely P. 1985. Microbial xylanolytic systems. Trends Biotechnol 3:286–290. 
KIMIA.STUDENTJOURNAL, Vol. 2, No. 1, pp. 340 -344, UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

Di unduh 14 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar