PENGARUH
SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KESTABILAN ENZIM XILANASE DARI Trichoderma
viride
Enzim merupakan biopolimer yang berperan
sebagai katalis hayati dalam reaksi-reaksi biokimia yang terjadi dalam sel
mahkluk hidup. Xilanase adalah kelompok enzim yang memiliki kemampuan
menghidrolisis hemiselulosa (xilan) menjadi xilosa. Enzim xilanase dihasilkan
oleh bakteri dan kapang melalui proses fermentasi. Salah satu kapang yang dapat
menghasilkan xilanase adalah Trichoderma viride. Dewasa ini enzim
xilanase dimanfaatkan untuk pembuatan gula xilosa, proses bleaching pada
pembuatan kertas, campuran makanan ternak, dan juga digunakan untuk industri
makanan dan minuman. Seperti pada umumnya, enzim kestabilan enzim xilanase
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya suhu, pH, dan zat inhibitor.
Selain itu adanya enzim lain seperti enzim protease yang berfungsi untuk
menguraikan protein akan mempengaruhi kerja dari enzim xilanase. Kestabilan
suatu enzim dapat dilihat dari aktivitas enzim sisa, dimana enzim dinyatakan
stabil bila aktivitas enzim sisanya lebih dari 50% dari aktivitas enzim awal.
Dari uraian di atas maka diperlukan suatu penelitian tentang pengaruh suhu dan
lama penyimpanan terhadap enzim xilanase dari Trichoderma viride sehingga
diperoleh informasi tentang kestabilan dari enzim xilanase dari berbagai
variasi suhu dan lama penyimpanan.
Enzim
xilanase sering di artikan sebagai enzim yang mampu memutuskan ikatan pada
rantai utama xilan yang akan membentuk molekul oligosakarida pendek. Enzim
inilah yang memegang peranan kunci dalam mendegradasi polimer xilan yang banyak
ditemukan pada dinding sel tanaman berkayu. Mekanisme kerja enzim xilanase
mampu mendegradasi polimer xilan dengan cara memutus ikatan antargugus pada
bagian tengah secara acak yang akan menghasilkan xilooligosakarida. Berbeda
dengan xilanase pada umumnya, Aeromonas xilanase akan memutus rantai
xilan dari bagian ujung dan akan menghasilkan satu jenis oligosakarida. Induksi
ekspresi gen xilanase dapat dilakukan dengan penambahan xilobiose,
seperti pada Cryptococcus albidus.
Kestabilan
enzim xilanase dari trichoderma viride dipengaruhi oleh: 1) suhu; peningkatan
suhu yang ekstrim dapat menyebabkan atom-atom penyusun enzim bergetar
sehingga ikatan hidrogen terputus dan enzim terdenaturasi.
Denaturasi adalah rusaknya bentuk tiga dimensi enzim dan
menyebabkan enzim terlepas dari substratnya. Hal ini, mengakibatkan
aktivitas enzim menurun, denaturasi bersifat irreversible (tidak dapat
kembali). Setiap enzim mempunyai suhu optimum, enzim xilanase memiliki suhu
optimum 60˚C, lama penyimpanan juga mempengaruhi bersamaan dengan suhu yang di
terima oleh enzim dalam waktu selama penyimpanan. 2) PH(derajat keasaman);
Enzim memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan derajat keasaman dan kebasaan
(pH) lingkungan. Enzim bisa tidak aktif jika berada pada basa kuat atau asam
kuat. 3) Inhibitor (penghambat); Kinerja enzim bisa terhambat oleh adanya zat
lain. Zat yang menghalangi kerja enzim dinamakan inhibitor. Inhibitor dapat
menghalangi kerja enzim secara tetap atau hanya untuk sementara. Inhibitor
enzim dibedakan menjadi 2 jenis, antara lain inhibitor kompetitif dan inhibitor
nonkompetitif.
- Muawanah, A., 2006, Produksi Enzim Xilanase Termostabil Thermomyces lanuginosusIFO 150 pada Bagasse Tebu, Tesis IPB, Bogor.
- Richana, N., 2002, Produksi dan Prospek Enzim Xilanase dalam PengembanganBioindustri di Indonesia, Buletin AgroBio, No. 1, Vol. 5, Hal. 29-36
- Budiman, A., dan Setiawan S., 2010, Pengaruh Konsentrasi Substrat, Lama Inkubasidan pH dalam Proses Isolasi Enzim Xilanase dengan Menggunakan Media Jerami Padi,Universitas Diponegoro, Semarang.
- Winarno, F.G. 1986. Enzim Pangan. Jakarta: Gramedia.
- Simkovic. M., A. Kurucova., M. Hunova., L. Varecka,2008, Induction of Secretion ofExtracellular Proteases from Trichoderma viride, Acta Chimica Slovaca, Vol.1: 250 –264.
- Dondin Sajuthi, Irma Suparto, Yanti, dan Willy Praira, 2010, Purifikasi dan PencirianEnzim Protease Fibrinolitik dari Ekstrak Jamur Merang. Makara Sains, Vol. 14: 145-150.
- Poliana J, MacCabe AP. 2007. Industrial Enzymes; Structure, Function, and Applications. Dordrecht: Springer. Halaman: 77. ISBN 978-1-4020-5376-4
- Coughlan MP, Hazlewood GP. 1993, Beta-1,4-D-Xylan-degrading enzyme systems: biochemistry, molecular biology and applications. Biotechnol Appl Biochem 17:259–289.
- Kubata BK, Takamizawa K, Kawai K, Suzuki T, Horitsu H. 1995. Xylanase IV, an exoxylanase of Aeromonas caviae ME-1 which produces xylotetraose as the only low-molecular-eight oligosaccharide from xylan. Appl Environ Microbiol 61:1666–68.
- Biely P. 1985. Microbial xylanolytic systems. Trends Biotechnol 3:286–290.
KIMIA.STUDENTJOURNAL,
Vol. 2, No. 1, pp. 340 -344, UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
Di unduh 14 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar